2013/05/06

LOGOTERAPI (LOGOTHERAPY)


Logotherapy merupakan suatu pendekatan psikologis yang dikembangkan oleh Viktor E. Frankl, seorang neurolog dan psikiater yang pernah mendekan di kamp konsentrasi pada masa Nazi di tahun 40-an dan kehilangan istri dan banyak anggota keluarganya yang mati di kamp konsentrasi tersebut.
Logos’ sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘makna’. Logotherapy terkadang disebut aliran ketiga dalam terapi psikis, aliran yang lainnya adalah analisis kejiwaan (Freud) dan psikologi individual (Adler). Mereka berbeda dalam analisis kejiwaan yang fokus pada tekad kesenangan, psikologi individual fokus pada tekad kekuatan, dan logotherapy fokus pada tekad makna. Logotherapy merupakan sebuah aliran psikologi atau psikiatri modern yang menjadikan makna hidup sebagai tema sentralnya. Frankl yang pada awalnya merupakan pengikut Freud dan Adler, membelot dari ajaran para seniornya tersebut.
Frankl mengungkapkan bahwa selama individu mempunyai makna hidup, ia akan merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang memuaskan. Sebaliknya, apabila individu tersebut tidak mempunyai makna atau tidak mampu memberikan arti dan tujuan hidupnya, ia akan menjadi pribadi yang tidak orisinil, kehilangan keyakinan, dan terombang ambing menurut kemauan lingkungannya.
Dengan asumsi ini, Frankl berpendapat bahwa kekuatan yang paling utama untuk menggerakan kepribadian manusia terletak dari sejauh mana keinginanya untuk memberi makna hidup (the will to meaning). Kemudian hal ini menjadi dasar penelitian dan kekuatan bidang studinya ini, disamping dua konsep utama lainnya yaitu konsep kebebasan dan makna hidup.

Asas-asas Logotherapy
· Makna ada pada setiap situasi dalam hidup, baik dalam penderitaan ataupun kebahagiaan.
· Kebebasan berkehendak, yaitu di mana setiap manusia memiliki kebebasan yang tak terbatas dalam menemukan makna hidupnya.
· Manusia memiliki kemampuan dalam mengambil sikap terhadap penderitaan dan peristiwa tragis yang terjadi.

Tujuan Konseling Logotherapy
· Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang, terlepas dari ras, keyakinan, dan agama yang dianutnya
· Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat, dan diabaikan bahkan terlupakan
· Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.

Hakikat Manusia dalam Logotherapy
Berikut ini merupakan beberapa pandangan logoterapi terhadap manusia :
· Menurut Frankl, manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-psiko-spiritual.
· Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logotherapy tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimensi ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.
· Dengan adanya dimensi noetic ini manusia mampu melakukan self detachment, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.
· Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.

Pandangan Logotherapy terhadap Masalah
Konseling logoterapi merupakan konseling untuk membantu individu mengatasi maslah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Dalam logoterapi masalah adalah ujian hidup yang menurut Frankl harus dihadapi dengan keberanian dan kesabaran. Keberanian untuk membiarkan masalah ini sementara waktu tak terpecahkan, dan kesabaran untuk tidak menyerah dan mengupayakan penyelesaian.


Teknik-teknik logoterapi yang terkenal adalah intensi paradoksial, derefleksi, dan bimbingan rohani.
·   Intensi Pradoksial
Teknik dimana pasien diajak melakukan sesuatu yaitu paradoks dengan sikap pasien terhadap situasi yang dialami disebut teknik intensi paradoksial, yakni teknik mendektai dan mengejek sesuatu (gejala) dan bukan menghindari atau melawannya. Teknik pada dasarnya bertujuan lebih daripada perubahan pola-pola tingkah lak. Lebih baik dikatakan suatu reorientasi eksistensial. itulah logoterapi dalam arti sesungguhnya dan menurut logoterapi.
Landasan dari intensi paradosial ini adalah kesangguapan manusia untuk bebas bersikap dan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri.
·   Derefleksi
Untuk menangani perhatian dan observasi diri yang berlebihan ditangani dengan teknik ini. Dengan teknik ini, pasien diberi kemungkinan untuk mengabaikan neurosisnya dan memusatkan perhatian pada sesuatu yang terlepas dari dirinya.
·   Bimbingan Rohani
Teknik yang menangani pasien yang mengalami kasus yang tidak bisa disembuhkan dan nasib buruk yang tidak diubah, maka perhatian pasien diarahkan kepada unsur rohani dan didorong supaya pasien menemui sikapnya.

Langkah-langkah dalam proses terapi menurut Semiun (2006), adalah sebagai berikut:
  • Menghadapi Situasi tersebut. 
Diagnosis yang tepat merupakan langkah pertama dalam terapi dan merupakan sesuatu yang penting. Seluruh gangguan fisik klien merupakan faktor-faktor fisik, psikologis, dan spiritual. Tidak ada neurosis somatogenik, psikogenik, atau noogenik saja. Tujuan diagnosis adalah menentukan sifat dari setiap faktor dan mengidentifikasi faktor manakah yang dominan. Apabila faktor fisik yang dominan, maka kondisi itu disebut psikosis, dan apabila faktor psikologis yang dominan maka kondisi tersebut adalah neurosis. Sebaliknya apabila faktor spiritual yang dominan maka kondisi tersebut adalah neurosis noogenik.
  • Kesadaran akan Simtom
Dalam menangani reaksi-reaksi neurosis psikogenik, logotherapydiarahkan bukan pada simtom-simtom dan bukan juga pada penyebab psikis, melainkan sikap klien terhadap simtom-simtom tersebut.dalam mengubahh sikap klien terhadap simtom-simtom-simtom itu, logotherapy benar-benar merupakan suatu terapi personalitik.
  • Mencari Penyebab
Logotherapy adalah suatu terapi khusus bagi frustasi eksistensial (kehampaan eksistenasial) atau frustasi terhadap keinginan akan makna. Kondisi-kondisi ini jika menghasilkan simtom-simtom neurotik, maka disebut neurosis noogenik. Logotherapy berurusan dengan penyadarab manusia terhadap tanggung jawabnya karena tanggung jawab merupakan dasar yang hakiki bagi keberadaan manusia. Tanggung jawab berarti kewajiban, dan kewajiban tersebut hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan makna, yakni makna hidup.
Jadi, logotherapy berkenaan dengan makna dalam berbagai aspek dan bidangnya. Makna keberadaan itu dapat berupa makna hidup dan mati, makna pendeitaan, makna pekerjaan dan makna mati.
  • Menemukan Hubungan antara Penyebab dan Simtom
Neurosis kecemasan dan keadaan fobia ditandai oleh kecemasan antisipatori yang menimbulkan kondisi yang ditakutu klien. Terjadinya kondisi tersebut kemudian memperkuat kecemasan antisipatori yang mengakibatkan lingkaran setan sehingga sehingga klien menghindar atau menarik diri dari situasi-situasi tersebut, di mana ia merasakan bahwa kecemasannya akan terjadi. Dalam kasus-kasus yang menyangkut kecemasan antisipatori, teknik logotherapy yang disebut intensi paradoksikal (paradoxical intention) sangat berguna.
Sebaliknya, perhatian dan observasi diri yang berlebih-lebihan ditangani dengan teknik logotherapy lain, yakni derefleksi (dereflexion). Dengan teknik tersebut, klien diberi kemungkinan untuk mengabaikan neurosisnya dan memusatkan perhatian pada sesuatu yang terlepas dari dirinya.
Di lain pihak, klien yang mengalami kasus yang tidak bisa disembuhkan dan nasib buruk yang tidak dapat diubah, maka perhatian klien diarahkan kepada unsur rohani dan di dorong supaya klien menemui nilai bersikap. Teknik logotherapy ini dinamakan bimbingan rohani (spiritual ministry).

Sumber:
Corey, H. (2007). Teori dan Praktek Konseling. Bandung: PT Refika Aditama.
Semium. Y. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta. Kanisius.
Tasmara, H.T. (2001). Kecerdasan ruhaniah (Transcendental Intelligence). Jakarta: Gema Insani.
Tn. (Tt). Konseling Logoterapi. [Online]. Tersedia: http://himappb.webly.com/bk.html